Ads 468x60px

Subscribe:

About

captain_jack_sparrow___vectorHello, my name is Jack Sparrow. I'm a 50 year old self-employed Pirate from the Caribbean.
Learn More →

Popular Posts

Kamis, 19 Oktober 2017

Apa Arti Volatilitas Bitcoin Bagi Anda?




Salah satu alasan yang digunakan untuk melawan Bitcoin, termasuk ungkapan Jamie Dimon, untuk menyerang Bitcoin adalah volatilitasnya yang tinggi. Apakah volatilitas tinggi itu sangat buruk bagi Bitcoin?

Memang sudah dari awal bitcoin muncul volatilitas Bitcoin sangat tinggi. Banyak yang senang dan ada juga yang sedih karena kehilangan dana mereka. Sebenarnya tidak rugi atau kehilangan dana. Cuman dana mereka hanya berpindah tangan. Contoh “di tahun 2013/2014 Bitcoin mengalami kenaikan harga hingga 1200 dollar atau dalam rupiah sekitar 15 juta dan waktu itu mengalami penurunan drastic hingga 200 dollar/2jt rupiah. Ada seseorang yang membeli Bitcoin di harga 15 juta, lalu harga turun selama tahun tersebut sampai 2015/2016 hingga 2 jt rupiah. Menurut saya dia tidak rugi jika dia bisa memanagement hal tersebut dengan menahan/hold Bitcoin hingga sekarang, dan lihat sendiri kan harga bitcoin di tahun ini kemarin dapat mencapai hampir 5000 dollar. Anda tidak rugi namun cuma berpindah tangan.”

Nah disini saya akan mengurai mengenai volatilitas Bitcoin itu baik atau buruk.


VOLATILITAS ADALAH KESEMPATAN BAGI PARA PEDAGANG

Bagi para pedagang harian dan investor jangka pendek bukan pedagang tahunan, volatilitas Bitcoin memberi kesempatan besar untuk menghasilkan keuntungan. Dengan memprediksi tren jangka pendek di Bitcoin secara benar, para pedagang tersebut dapat menghasilkan keuntungan yang besar; jauh lebih banyak daripada investor yang memiliki strategi buy-and-hold seperti cerita diatas, hold karena keadaan hehe.

KELAS ASET YANG SANGAT VOLATILE

Salah satu alasan mengapa investor tradisional mengabaikan Bitcoin adalah bahwa harganya yang sering berayun dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Harganya meningkat dari sekitar $ 1.000 pada awal tahun ke puncak hingga mencapai $ 5.000 pada bulan September 2017 (keuntungan +400 persen), dan akhirnya jatuh ke harga terendah $ 3.000 (-40 persen dari puncaknya). Bahkan hal ini kejadiannya sama seperti dulu, harga Bitcoin jatuh dari $ 32 menjadi $ 2 di tahun 2011 (turun 94 persen). Ada periode volatilitas yang rendah, tapi ini jarang terjadi. Bitcoin bisa disebut emas digital, namun dalam hal volatilitas, Bitcoin memang rajanya.

VOLATILITAS MEMANG TIDAK BISA DIHINDARI SELAMA MASA PERTUMBUHAN

Bitcoin masih tergolong sebagai kelas aset yang relatif baru. Meskipun tingkat kesadaran tentang Bitcoin di antara populasi umum sudah meningkat, hanya sebagian kecil dari mereka yang memiliki Bitcoin dalam jumlah yang besar.
Terlebih lagi, investor institusi juga menghindari Bitcoin, mengingat sifatnya yang tidak diatur dan risiko yang terkait dengannya.
Seiring dengan adopsi/penggunaan Bitcoin yang terus meningkat dan permintaannya yang meningkat, harga Bitcoin bisa saja bergerak naik dengan cepat.
Demikian pula, jika ada berita negatif tentang Bitcoin, seperti rumor Cina yang akan menghentikan operasi bursa pertukaran kriptocurrency di negaranya, beberapa pemegang/bagholder Bitcoin mulai menjual Bitcoin dan harganya pun bisa turun dengan cepat.
Benar kan..

Namun berbeda lagi jika Bitcoin sudah tersebar luas nantinya, dan banyak orang yang mulai memegang Bitcoin, Harga Bitcoin bahkan volatilitasnya akan berkurang dan akan bergerak secara substansial.
sumber :bitcoinnewsindo.com

CEO BITCOIN INDONESIA OSCAR DARMAWAN: UANG TANPA KEWARGANEGARAAN ADALAH MASA DEPAN



Coba kalian lihat ini.” Oscar Darmawan menunjukkan sesuatu di layar laptopnya kepada kami soal Bitcoin. Ia berkata: “Bitcoin membuat (transaksi) lebih transparan,” ujar pria berusia 31 itu yang merupakan Chief Executive Officer (CEO) Bitcoin Indonesia .
Sosok Oscar dikenal sebagai pengembang Bitcoin selama empat tahun terakhir. Dirinya telah berbicara tentang Bitcoin di berbagai televisi, media online dan cetak.
Ia adalah peraih gelar sarjana bidang teknologi dan sistem informasi dari Monash University. Oscar juga pernah jadi managing director di PT Bumi Intermedia selama tujuh tahun sebelum mendirikan Bitcoin Indonesia pada 2013 dan menjadi CEO-nya.
Bitcoin Indonesia merupakan pasar elektronik (marketplace) untuk 450 ribu anggota terdaftar sampai kini. Oscar dan timnya sedang membangun ekosistem bitcoin di Indonesia, seperti proyek Bitisland yang berharap mengubah Bali jadi pulau Bitcoin.
Di Bali, memang sudah ada orang yang membeli vila dengan Bitcoin. Di sana, terdapat juga prototype anjungan tunai mandiri untuk Bitcoin.
Banyak yang sudah percaya. Karena tak ada data pribadi yang diekspos saat transaksi,” ujar Oscar kepada Fajar WH, Heru Triyono, Sorta Tobing, dan fotografer Wisnu Agung saat wawancara di Epicentrum Walk, Jakarta Selatan, Selasa siang (12/9/2017).
Bitcoin adalah mata uang virtual yang memungkinkan transaksi langsung antarpengguna. Jadi, tak perlu lagi jasa bank sebagai perantara, sebab semua transaksi dikirim langsung ke jaringan komputer pemakainya.
Sejak muncul 2009, Bitcoin terus berkembang dan baru pada 2013 masuk ke Indonesia. Bitcoin telah digunakan setidaknya 200 ribu pengguna di Indonesia pada 2016 dan diprediksi mencapai 500 ribu pada 2018.
Seiring popularitasnya yang melonjak, nilai tukar satu Bitcoin (2/9/2017) mencapai Rp64.957.200. Naik berkali-kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini karena Bitcoin sudah legal di sejumlah negara seperti Amerika Serikat. Bahkan di Jepang, Bitcoin sudah dianggap sebagai mata uang yang setara dengan Yen.
Jadi berbagai layanan publik bisa dibayar pakai Bitcoin,” kata pria berusia 31 ini.
Namun kondisi berbeda terjadi di Indonesia. Bitcoin tak dapat dukungan aturan bank sentral. Jadi, jika hal buruk terjadi, pemerintah tak bisa menjamin.
Mungkin pemerintah belum memahami. Padahal tidak ada yang perlu ditakutkan,” tuturnya.
Memahami Bitcoin hanya sedikit lebih sulit daripada melacak penciptanya yang misterius: Satoshi Nakamoto. Satoshi adalah nama samaran orang atau grup.
Namun, tahun lalu, wiraswastawan Australia, Craig Wright, mengklaim dirinya sebagai pencipta Bitcoin. Pengakuannya mengakhiri spekulasi bertahun-tahun tentang siapa sosok Satoshi.
Selama satu jam lebih Oscar bicara soal risiko sistem Bitcoin, kemudian apa yang membuatnya lebih baik dari pada uang tunai dan kenapa jadi sarana pembiayaan terorisme, pencucian uang dan kejahatan dunia maya.
Menurut Anda, apakah ini waktu yang tepat bagi Indonesia mengeluarkan peraturan baru untuk Bitcoin?
Semua orang dalam mode wait and see. Tetapi seperti ada ketakutan-ketakutan terhadap Bitcoin. Kita ini kayak kurang welcome sama teknologi.
Kemudian, dari sisi regulator. Mereka juga masih salah paham. Isunya Bitcoin akan menggantikan Rupiah, yang terkait kedaulatan negara. Padahal ini cuma teknologi.
Mungkin perkembangan teknologinya lebih cepat dibanding proses pembuatan aturannya……dan persiapannya juga lebih represif. Padahal negara seperti Jepang sudah resmi mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran. Bahkan Rusia yang tertutup sekalipun akan melakukan seperti Jepang.
Mungkin sama dengan dulu, ketika internet pertama kali masuk Indonesia. Pemerintah juga ketakutan dengan internet sebab bisa buat pornografi atau hal negatif lain. Padahal banyak yang positif.
Anda menilai aturan di Indonesia terlalu kaku?Mungkin karena belum paham secara keseluruhan, regulator jadi takut. Kalau paham, saya rasa enggak. Justru dengan adanya Bitcoin, membuat transaksi jadi lebih transparan.
Kan cuma perlu diatur siapa yang boleh beli, siapa yang boleh jual, kemudian bagaimana aturan market place-nya.
Tetapi Bank Indonesia (BI) tidak mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah?Saya luruskan. Aturan BI itu hanya menganggap Bitcoin bukan alat pembayaran yang sah. Mereka tidak melarang peredaran Bitcoin.
Saya tunjukkan dari website-nya. Yaitu PBI (Peraturan BI) nomor 1840 komponen ke-10, “BI tidak melarang penggunaan virtual currency (salah satunya Bitcoin). Tetapi melarang PJSP (bank) yang telah memperoleh izin untuk memproses transaksi pembayaran”.
Bitcoin bisa menggantikan alat pembayaran Rupiah di masa depan?Saya rasa sudah jelas, BI menyatakan bahwa Bitcoin dapat digunakan, diperjualbelikan atau disimpan sebagai aset atau suatu bentuk komoditas digital, namun tidak boleh digunakan sebagai alat pembayaran, karena satu-satunya alat pembayaran yang sah hanyalah Rupiah.
Mungkinkah Indonesia akan mengikuti Jepang yang sudah resmi mengakui Bitcoin sebagai alat pembayaran?Di luar negeri hampir semua bank sentralnya punya panduan untuk Bitcoin. Bitcoin di Jepang berada di bawah FSA, Financial Services Agency, semacam OJK-nya Jepang.
Sementara di Australia, Bitcoin itu dibebas pajakkan dari pajak pertambahan nilai atau dianggap setara seperti uang karena tidak kena PPN lagi.
Jadi, ya, uang tanpa kewarganegaraan seperti Bitcoin ini adalah masa depan, karena lebih baik.
Apa yang membuat Bitcoin lebih baik daripada uang tunai?Bitcoin adalah alternatif. Ini hampir seperti emas. Pengiriman melintasi perbatasan negara tidak hanya lebih murah, tapi juga lebih cepat, hanya dalam hitungan menit.
Kemudian, pengalihan uang melintasi perbatasan adalah hal kedua yang lebih baik daripada sistem saat ini. Tidak hanya lebih murah, karena tidak memiliki banyak tengkulak, tapi juga lebih cepat. Tidak perlu waktu lima hari, itu akan hilang dalam 10 menit.
Cara dunia bergerak saat ini adalah semuanya digital, dan perlu ada buku besar yang menghitung semua transaksi yang terjadi di seluruh dunia–dan itulah yang akan dilakukan oleh blockchain (sebuah buku besar digital publik yang mencatat semua transaksi mata uang digital).
Meski Anda bilang lebih baik, tapi di Indonesia, Bitcoin itu masih kurang diterima dan dipercaya…Bisa jadi karena pesan regulator tadi tidak sampai. Yang dibaca masyarakat hanya dilarangnya saja. Padahal Bitcoin bisa disimpan sebagai aset atau suatu bentuk komoditas digital.
Di Indonesia memang jumlah transaksinya tidak banyak, hanya 1 persen dari jumlah keseluruhan di dunia.
Di ASEAN, paling besar itu di Thailand dan Singapura. Mereka teknologinya bagus, transaksi cashless-nya juga bagus. Kita sedikit ketinggalan.
Masyarakat juga ragu karena kalau ada hal buruk terjadi, Pemerintah tidak akan tanggung–karena belum ada aturannya kan?Betul juga, sampai kini yang mengatur ya undang-undang perdata–ketika menangani persoalan e-commerce.
Apakah marak kasus hukum yang terkait Bitcoin?
Perusahaan kecil yang tiba-tiba tutup itu pasti ada ya. Namanya juga e-commerce. Muncul hari ini, besok bisa tutup. Makanya yang dilakukan Amerika, Jepang dan Eropa, sejenis e-commerce yang terkait Bitcoin dikasih izin Perbankan.
Luxemburg misalnya. Mereka juga telah melegalkan salah satu bursa Bitcoin raksasa bernama Bitstamp untuk beroperasi di Eropa. Mereka melihat bahwa lebih baik ini diatur. Jadi jelas. Bukan mengatur mata uangnya, tapi mengatur industri yang menjual dan membeli Bitcoinnya.
Apa upaya Anda agar pemerintah mengatur mata uang digital ini?Kita terus menjaga hubungan baik dengan semua regulator. Kita selalu menjelaskan bahwa kita ini bukan penerbit Bitcoin. Tetapi masyarakat masih banyak salah paham. Kita ini dikira yang menerbitkan mata uang digital, seperti Bitcoin. User baru di Bitcoin Indonesia setiap harinya ada sekitar 200. Total mencapai 450 ribu orang.
Semua transaksi di bitcoin, kata Oscar, tercatat. Semua orang di internet pun bisa melihat transaksi pengguna bitcoin melalui wallet (dompet) digital bitcoin. Setiap pengguna bitcoin memiliki wallet, dan bisa memiliki lebih dari 100 wallet.
Kalau tercatat dan transparan, kenapa Bitcoin rawan pencucian uang, bahkan untuk kepentingan ilegal, seperti judi, obat-obatan terlarang, dan terorisme…Karena dalam bertransaksi, para pengguna itu belum tentu mencantumkan identitas aslinya. Nah, ini pentingnya regulasi. Kalau ada regulasi yang namanya PNS ya harus menyertakan bukti bahwa dia PNS. Sama seperti Bank itu lho.
Pengguna di Bitcoin Indonesia juga tidak memakai identitas asli?Kami mengharuskan asli, termasuk meminta nomor telepon seluler. Kemudian kalau transaksi di atas Rp 100 juta, pengguna wajib mengisi formulir tambahan.
Namanya pencucian uang, pelaku kan biasanya menggunakan identitas orang lain, pakai identitas sopir misalnya…Mungkin saja. Yang jelas kita memegang identitas asli pengguna.
Lalu apa jaminan sekuritas dari Bitcoin Indonesia?Kita enggak pernah menjamin apapun. Kita hanya membantu orang untuk membeli dan menjual dengan transaksi yang aman. Setelah dibeli, Bitcoin akan dipegang masing-masing oleh pengguna, bukan kami lagi.
Kami hanya sebagai marketplace–untuk pengguna yang mengelola aset digitalnya. Aset atau barangnya berupa saldo, yang bisa disimpan di berbagai dompet Bitcoin. Semua transaksi transparan.
Yang Anda maksud transparan itu semua pengguna tahu saldo kita berapa dan transaksi kemana saja?Nama enggak ketahuan, tapi kalau sudah ketahuan nomor rekening Anda berapa, semua bisa lihat saldo dan transaksinya ke mana saja. Maka itu Bitcoin enggak cocok untuk money laundering.
Kalau enggak cocok kenapa kejahatan dunia maya seperti serangan Ransomware Wannacry minta tebusan pakai Bitcoin?Lho, kita bisa lihat saldonya Wannacry, lewat alamat virusnya (Oscar menunjukkan di layar laptop). Karena, begitu identitas pelaku terbongkar, blockchain dapat membantu menemukan semua transaksi yang pernah dilakukan oleh pelaku. Kehebatan Bitcoin yang seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Euro ataupun Dollar AS.
Sekarang tantangannya adalah ke mana Wannacry menjual Bitcoinnya. Yang jadi tugas Interpol adalah melacak kemana mereka mencairkan Bitcoinnya.
“Saya optimis tiga tahun mendatang Bitcoin dilegalkan di Indonesia”
Oscar Darmawan
Hampir mirip dengan pencairan dana dari penjualan saham ya yang memerlukan waktu 3 hari bursa?Beda, karena setiap orang yang beli dan jual itu barangnya benar-benar ada. Kalau saham, waktu Anda beli di harga berapa, ya dapat harga itu. Ada mekanisme di belakangnya di mana dia settlement tiga hari setelah dijual.
Nah kalau Bitcoin, sistemnya benar-benar spot market. Waktu beli di harga Rp56 juta ya langsung dapat di harga itu dan bisa langsung kita jual tanpa menunggu tiga hari. Biaya transaksinya hanya 0,3 persen.
Bagaimana proses pencairan Bitcoin di bank konvensional?Biasanya bank minta identitas datanya. Kemudian tergantung si pengguna juga mau memilih bank mana. Semua bank bisa. Seperti emas saja, mau dijual kemana tergantung Anda kan? Kita enggak bisa memaksa Anda menjualnya ke Antam. Amat liquid (mudah).
Cocok buat investasi ya…Itu kenapa orang lebih memilih Bitcoin dibanding emas atau lain sebagainya. Yang pertama karena liquid, kedua, transaksinya bisa sangat kecil, ketiga, karena tidak terpengaruh oleh penerbitan dari perusahaan apapun.
Apakah belum bisa mencairkan Bitcoin lewat ATM–seperti yang ada di Bali?Sebenarnya itu bukan ATM, tapi vending machine. Beda. Kalau ATM kan bisa transfer, tarik uang, memasukkan uang dan melihat saldo. Jadi, vending machine Bitcoin di Bali itu orang memasukkan uang Rupiah, misalnya satu lembar Rp50 ribu, kemudian saldo Bitcoinnya bertambah. Begitu.
Dalam pandangan Anda Indonesia bakal melegalkan Bitcoin nantinya?Lambat laun pasti ke sana. Banyak negara kecenderungannya itu melegalkan. Mereka mengatur industri yang bergerak di bidang virtual currency ini.
Indonesia itu hanya masalah waktu saja. Lembaga paling dekat yang mengatur itu harusnya OJK dan Bank Indonesia. Kita tunggu saja.
Bisa terwujud dalam dua atau tiga tahun lagi?Saya optimistis tiga tahun mendatang akan dilegalkan. Contoh saja Gojek, yang awalnya begitu kencang kontroversinya. Tapi sekarang demo-demo sudah berakhir.
Sumber : beritagar.id/artikel/bincang/ceo-bitcoin-indonesia-oscar-darmawan-uang-tanpa-kewarganegaraan-adalah-masa-depan

Rabu, 18 Oktober 2017

Inilah Alasan Orang Indonesia Menggunakan Bitcoin



Platform mata uang digital Luno dalam website-nya menyebut, Indonesia merupakan negara yang pertumbuhan pengguna Bitcoin-nya terus meningkat.

Apalagi, hasil penelitian menemukan bahwa 80 persen orang Indonesia (sekitar 200 juta orang) merupakan kelompok yang tak tersentuh perbankan (unbankable). Dengan begitu, potensi Bitcoin untuk digunakan masyarakat Indonesia masih sangat besar.
Lantas, apa alasan yang mendasari Bitcoin dipakai oleh sebagian orang Indonesia? Menurut informasi dari platform mata uang digital Luno, ada berbagai alasan yang membuat orang membeli Bitcoin.

Dalam infografis Luno 20,4 persen responden melihat Bitcoin sebagai alat pembayaran yang lebih baik dibanding kartu kredit. Mereka menilai demikian karena Bitcoin dianggap aman, sebab sulit melakukan penipuan dengan Bitcoin dan privasi penggunanya pun yang terjamin.
Alasan yang kedua, transaksi dengan Bitcoin dianggap lebih cepat dan murah. Bitcoin juga bersifat terdesentralisasi. Pengguna memanfaatkan Bitcoin untuk investasi lantaran menganggap Bitcoin adalah aset bernilai tinggi. Tidak sedikit juga yang menggunakan Bitcoin untuk perdagangan harian.

Bitcoin pun dipercaya cukup banyak orang Indonesia, terbukti dari hasil survei yang menyebut 47,9 persen responden percaya Bitcoin. Sementara yang tidak percaya pada Bitcoin hanya 21,39 persen dan yang masih ragu-ragu sebanyak 30,8 persen.

Tidak hanya itu, jika dibandingkan dengan emas, 46,6 persen responden lebih memilih investasi pada Bitcoin dibandingkan emas (12,9 persen). Bahkan, 47 persen responden Luno menganggap Bitcoin merupakan masa depan uang digital.

Tiap harinya, responden Bitcoin di Indonesia juga aktif menggunakan atau mengecek Bitcoin mereka (52,9 persen). Sangat sedikit yang jarang mengecek Bitcoin miliknya (18,8 persen).
Meski cukup banyak yang percaya dan menggunakan Bitcoin, mata uang ini belum mendapatkan pengakuan dan izin dari pemerintah Indonesia dan negara lainnya. Kalau Bitcoin mendapat izin, diperkirakan 88,8 persen responden akan membeli lebih banyak Bitcoin.

Sekadar diketahui, saking percayanya pada Bitcoin, sebagian besar responden memperkirakan nilai Bitcoin akan mencapai Rp 40-70 juta.

sumber : liputan6.com


Selasa, 17 Oktober 2017

Jalan-Jalan Keliling Dunia Menggunakan Bitcoin, apakah mungkin?


Pertanyaan diatas sebenarnya tergantung pada diri Anda sendiri. Apakah Anda sudah berkomitmen penuh untuk hidup hanya bermodalkan Bitcoin? Berwisata keliling dunia menggunakan Bitcoin bukanlah hal yang mustahil, namun mungkin juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan berhubung Bitcoin sendiri umurnya baru 8 tahun dan masih sedikit kalah populer dibandingkan uang cash ataupun kartu kredit.


Lalu pertanyaannya, kalau memang berwisata menggunakan Bitcoin itu sulit, mengapa saya harus membayar dengan Bitcoin? Mari kita bahas sedikit tentang kelebihan berwisata menggunakan Bitcoin dibandingkan uang cash maupun kartu kredit.

Goodbye, Money Changer

Perbedaan mata uang yang kita miliki dengan mata uang negara yang kita kunjungi kadang bisa menjadi beban tersendiri. Pertama, kadang kita sering mengalami nasib buruk dimana money changer yang kita kunjungi memberikan kurs/exchange rate yang sangat buruk, sehingga bisa memotong bahkan hingga 10% dari nilai mata uang kita. Kedua, terdapat banyak Money Changer gadungan yang tidak memiliki ijin resmi dari pemerintah yang tentunya berisiko bila Anda bertransaksi disana. Ketiga, jarang ada Money Changer yang buka 24 jam selama seminggu penuh. Bagaimana jika dalam keadaan darurat, Anda perlu menukarkan uang Anda? Dengan Bitcoin, Anda bisa ucapkan selamat tinggal pada Money Changer karena Bitcoin merupakan mata uang yang berlaku hampir di seluruh negara di dunia. Misalnya merchant tempat Anda berbelanja tidak menerima pembayaran dengan Bitcoin, Anda bisa ke Bitcoin Exchange terdekat yang rata-rata beroperasi 24 x 7 x 365 (ya, bahkan pada hari libur sekalipun!).

Goodbye, Pocket Thieves

Membawa uang cash di tas Anda bisa menjadi sangat berbahaya ketika Anda berwisata ke negara-negara yang terkenal rawan dengan aksi kejahatan seperti pencurian uang atau barang berharga lainnya. Berbeda dengan Bitcoin, uang cash memiliki bentuk fisik yang tentunya akan membutuhkan tempat khusus untuk menampungnya. Ketika uang cash Anda semakin banyak, dan dompet Anda semakin tebal, Anda menjadi target empuk para pencopet. Bitcoin dengan mudahnya menawarkan keamanan tingkat tinggi yang bisa membuat Anda tenang ketika berwisata. Anda bisa menyimpan Bitcoin Anda di dalam smartphone yang Anda bawa, dan andaikan Smartphone Anda hilang dicuri, Anda bisa dengan mudahnya mengakses Bitcoin Anda melalui device/perangkat lain seperti PC, tablet atau smartphone berbeda selama Anda membackup dompet Bitcoin Anda dengan baik. Pencuri yang kini memiliki smartphone Anda pun kemungkinan besar tidak bisa mengambil Bitcoin Anda berhubung dompet Bitcoin Anda dijaga ketat dengan berbagai lapisan keamanan anti-hack.

Goodbye, 3% Charge

Apakah Anda sering merasa kesal ketika hendak membayar menggunakan kartu kredit, pihak merchant bertanya, “Untuk pembayaran menggunakan kartu kredit, Anda akan kami kenakan charge sebesar 3%, apakah tidak apa-apa?” Bila Anda berbelanja dalam jumlah kecil, mungkin Anda tidak akan peduli, namun beda halnya bila Anda berbelanja diatas 10juta Rupiah menggunakan kartu kredit. Anda dikenakan biaya setidaknya 300ribu Rupiah per transaksi! Berbeda dengan kartu kredit, pembayaran maupun pengiriman uang dengan Bitcoin hanya dikenakan fee sebesarnya 0.0001 – 0.0005 BTC untuk para penambang. Jika dikonversikan, 0.0001 – 0.0005 BTC setara dengan Rp 500 – 5.000 per transaksi, tidak peduli seberapa besar uang yang dikirimkan atau seberapa banyak tagihan belanjaan Anda.

You have become much cooler and more futuristic than ever!

Membayar dengan uang cash kini mulai berubah menjadi sesuatu yang terbilang kuno dan tradisional. Membayar dengan kartu kredit mungkin membuat Anda terlihat keren dan berkelas beberapa tahun yang lalu, namun kini sudah ada jutaan orang di dunia yang melakukannya. Membayar dengan Bitcoin? Nah, ini baru cara yang spesial! Meskipun sudah ada merchant-merchant raksasa yang menerima Bitcoin seperti Microsoft, Dell, Rakuten dan Overstock, Bitcoin belum sepopuler kartu kredit untuk digunakan oleh masyarakat umum. Ketika Anda menggunakan Bitcoin, Anda bisa menyombongkan diri Anda sebagai seseorang yang update teknologi. Kini Anda tidak perlu membayar mahal membeli iPhone 7 untuk menjadi seseorang yang keren dan futuristik. Cukup download aplikasi dompet Bitcoin di smartphone ‘jadul’ Anda dan coba berbelanja menggunakan Bitcoin di merchant terdekat yang menerimanya. Pasti semua orang akan terkesima saat memperhatikan Anda.

So, is it possible to travel the world only with Bitcoin?

Tentu saja! Kini Bitcoin sudah bisa digunakan untuk membeli (hampir) semua barang di dunia termasuk satelit pribadi hingga tiket ke luar angkasa. Untuk berwisata ke luar negeri, Anda bisa membeli tiket pesawat dengan Bitcoin di situs-situs ternama seperti CheapAir, atau travel agent yang memang secara khusus melayani pembelian tiket dengan Bitcoin seperti aBitSky. Perusahaan travel agent raksasa seperti Expedia dan Destinia juga bisa melayani pembelian tiket pesawat Anda sekaligus membantu Anda melakukan reservasi di hotel favorit Anda. Mereka juga menyediakan layanan penyewaan mobil untuk kebutuhan transportasi dalam kota Anda. Bila Anda memilih untuk naik angkutan umum, sudah ada banyak taksi yang bisa dibayar dengan Bitcoin seperti di Budapest, Malaysia, bahkan kini di Argentina, Uber juga bisa dibayar dengan Bitcoin.
Bila dilihat di Coinmap.org, kini sudah ada ribuan merchant yang tersebar di seluruh dunia untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari Anda. Mulai dari restoran bintang lima di Ubud, Bali, supermarket di Belanda, hingga toko cupcakes di San Fransisco, semua sudah bisa dibayar dengan Bitcoin. Anda bisa hidup bermodalkan Bitcoin saja di berbagai negara, termasuk membeli souvenir dan barang-barang mewah dengan Bitcoin seperti wine, lukisan, jam tangan dan mobil. Di Indonesia, daftar merchant yang terima pembayaran dalam bentuk Bitcoin dapat dilihat di Direktori Bitcoin atau di Bitislands.com.
Semuanya bisa dilakukan, selama Anda mau mencoba. Apakah Anda berani untuk mulai hidup dan berwisata hanya menggunakan Bitcoin saja?

sumber : blog bitcoin

Minggu, 15 Oktober 2017

Bitcoin VS Emas: Mana yang lebih Baik ?



“Apa sih sebenarnya Bitcoin itu?” Untuk menjawabnya, mari kita hilangkan segala konsep digital yang ada di Bitcoin. Anggaplah Bitcoin itu sesuatu yang nyata seperti emas, misalnya, dan bayangkan kini Anda menggenggam sebongkah emas di tangan Anda. Mudah, bukan?
Sekarang saya tanya, siapa yang menciptakan emas? Tidak ada, Tuhan-lah penciptanya dan kita tidak bisa membuktikan eksistensi-Nya maupun identitas asli-Nya bila memang ada. Sejauh ini, belum ada satu individual atau perusahaan manapun yang dapat menciptakan emas. Untuk mendapatkan emas, kita harus menambangnya terlebih dahulu atau membelinya dari toko emas terdekat. Logam mulia ini tersebar di seluruh penjuru dunia, berlaku dan dapat diperjualbelikan di negara manapun, meskipun tidak diciptakan oleh satu sosok yang nyata. Emas tersedia dalam jumlah yang terbatas, dan inilah yang menyebabkan harganya semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Bitcoin sama persis seperti itu, namun bedanya, dia bersifat digital atau tidak terlihat. Jadi sekarang bayangkan Anda sudah menyulap emas tersebut menjadi sesuatu yang virtual dan disimpan di komputer atau smartphone Anda. Bitcoin memiliki semua aspek-aspek penting yang dimiliki emas, namun bentuknya seperti pulsa. Menakjubkan, bukan?
Bisa kita rangkumkan bahwa Bitcoin memiliki karakteristik mirip emas sebagai berikut:
  1. Suplainya terbatas, dimana hanya akan ada 21 juta Bitcoin yang tersebar di dunia;
  2. Tidak diciptakan oleh Bank Sentral/pemerintah, melainkan oleh suatu pihak yang tidak diketahui identitas aslinya;
  3. Tidak diproduksi maupun dikontrol oleh suatu individu, grup atau perusahaan;
  4. Mustahil untuk diduplikasi atau dipalsukan;
  5. Bersifat tahan lama dan tidak mudah hancur;
  6. Diperoleh dengan cara ditambang, namun menggunakan program mining dan algoritma matematika;
  7. Dapat ditransaksikan di seluruh dunia;
  8. Transaksi bersifat irreversible, artinya sekali Bitcoin diberikan ke tangan orang lain, transaksi tidak dapat dibatalkan kecuali orang itu bersedia mengirimkan Bitcoinnya kembali;
  9. Dapat ditukar dan diperjualbelikan dengan berbagai mata uang di dunia.
Karakteristik-karakteristik diatas membuktikan bahwa selain bentuknya yang digital, Bitcoin kurang lebih mirip dengan emas.
sumber : blog.bitcoin.co.id

Kamis, 12 Oktober 2017

Apa Itu Bitcoin?

Bitcoin adalah mata uang virtual yang dikembangkan pada tahun 2009 oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Mata uang ini seperti halnya Rupiah atau Dollar, namun hanya tersedia di dunia digital. Konsepnya mungkin terdengar seperti eGold, walaupun sebenarnya jauh berbeda.

Bitcoin sebagai mata uang memiliki fitur sebagai berikut:
  • Transfer instant secara peer to peer.
Peer-to-peer sendiri artinya Bitcoin berjalan tanpa memiliki server pusat. Server penyimpanannya bersifat desentralisasi dan terdistribusi—dibagi ke berbagai server yang dijalankan oleh setiap pengguna yang terhubung ke dalam jaringan.
  • Transfer ke mana saja
Tidak seperti emas, Bitcoin bisa dikirimkan kemana saja dalam hitungan detik, kapanpun dan darimanapun yang Anda mau. Pengiriman uang dengan Bitcoin bisa terjadi hanya dengan modal sebuah smartphone dan koneksi internet.
  • Biaya transfer sangat kecil.
Biaya pengiriman pun bisa dihilangkan sampai gratis, namun untuk mempercepat transaksi, biasanya dompet Bitcoin Anda akan memotong biaya sekitar 500 – 3,000 rupiah, tidak peduli berapa jumlah uang yang dikirimkan.
  • Transaksi bersifat irreversible, artinya sekali ditransfer tidak bisa dibatalkan.
Bitcoin diberikan ke tangan orang lain, transaksi tidak dapat dibatalkan kecuali orang itu bersedia mengirimkan Bitcoinnya kembali;
  • Transaksi bitcoin bersifat pseudonymous.
Semua transaksi yang pernah dilakukan sekaligus saldo Bitcoin yang dimiliki seseorang bisa kita lihat, namun kita tidak tahu siapa pemilik alamat Bitcoin tersebut bila si pemilik tidak memberitahukannya. Setiap pengguna Bitcoin sebenarnya bisa memilih apakah namanya ingin dimunculkan atau tidak, namun meskipun si pengguna ingin merahasiakan identitasnya, semua transaksinya tetap tercatat dan dapat dipantau oleh publik.
  • Bitcoin tidak dikontrol oleh lembaga atau pemerintah apapun.
Bitcoin yang menggunakan database Blockchain tidak dikontrol oleh suatu pihak, melainkan sangat terbuka untuk umum sehingga mustahil bagi seseorang untuk memalsukan transaksi di Blockchain. Seluruh transaksi tercatat secara live, transparan, dan tersebar ke jutaan server. Mereka yang ingin mengubah atau memalsukan data transaksi Bitcoin, harus meretas jutaan server tersebut di saat yang bersamaan.
  • Jumlahnya terbatas
Suplai Bitcoin hanya akan ada 21 juta Bitcoin di seluruh dunia. Sistem penciptaan Bitcoin yang terus berkurang setiap 4 tahun sekali ini menyerupai sistem ekonomi berdasarkan deflasi dan dengan makin terbatasnya supply bitcoin, harga bitcoin cenderung naik.
Anda bisa transfer bitcoin ke mana saja di dunia asalkan terkoneksi dengan internet. Bitcoin akan disimpan ke dalam Bitcoin Wallet. Wallet ini harus terinstall di kedua belah pihak, bisa dengan PC/laptop, tablet ataupun smartphone. Setelah menginstall wallet, Anda akan mendapatkan Bitcoin Address. Untuk transfer bitcoin sangat mudah, buka aplikasi wallet, masukan Bitcoin Address dari lawan transaksi dan jumlah bitcoin yang ingin ditransfer, kemudian kirim.
Lalu Anda mungkin bertanya, kalau tidak ada bank atau perusahaan yang mengelola seperti halnya paypal atau egold, lalu data keuangan disimpan di mana? Jawabannya, di komputer Anda sendiri (dalam wallet) dan jaringan peer to peer di seluruh dunia. Uang bitcoin tersimpan di komputer Anda di dalam wallet. Jika komputer rusak sama saja uang bitcoin Anda hilang, jadi wallet bitcoin harus di-backup secara berkala ke beberapa device. Ketika melakukan transaksi, puluhan ribu komputer di dalam jaringan bitcoin akan menverifikasi data yang Anda masukan sehingga tidak terjadi kecurangan.
Kenapa orang mulai beramai-ramai membeli dan menggunakan bitcoin?
Bitcoin dikembangkan dengan idealisme bahwa mata uang yang baik tidak dikontrol oleh pemerintah atau bank sentral. Krisis finansial beberapa waktu yang lalu menegaskan bahwa pemerintah selalu lalai dalam menjaga kestabilan ekonomi. Pemerintah dipercaya selalu dikuasai oleh orang-orang yang korup dan hanya bekerja demi keuntungan pribadi, sehingga keputusan-keputusan finansial selalu berpihak kepada konglomerat belaka.
Konsep ini menarik bagi banyak orang terutama para geek di dunia IT. Mereka mulai menginvestasikan aset mereka dalam bentuk bitcoin, sementara itu perekonomian dunia semakin labil terbukti dengan adanya krisis perbankan Amerika dan Eropa. Bitcoin dipercayai akan menjadi mata uang dan komoditas universal sehingga harga akan terus melambung tinggi. Dan ini terbukti, lihat tahun ini saja (Januari 2013) 1 BTC (satuan mata uang bitcoin) diperjualbelikan dengan harga kisaran 13 USD,
sedangkan sekarang (Mei 2013) 1 BTC diapresiasi dengan nilai 120 USD, ini berarti selama 5 bulan nilai bitcoin telah melambung hampir 10 kali lipat. Sekarang 1 BTC diapresiasi dengan nilai 860 USD (Desember 2013) berarti melambung 66 kali lipat dalam 1 tahun. Jika 2 tahun yang lalu (awal 2011) Anda iseng membeli bitcoin seharga 0.3 USD, saya ucapkan selamat karena menjadi milioner 😀
Bitcoin juga memiliki dua fitur yang sangat menarik yaitu sifatnya yang anonim dan biaya transaksi yang sangat rendah (hampir 0). Anda bisa melakukan transaksi tanpa memberikan identitas sama sekali, hal ini dapat menjaga privasi anda ke level yang paling tinggi.
Siapa yang menerbitkan Bitcoin?
Bitcoin baru diciptakan dengan proses yang disebut “mining”. Para miner menggunakan komputer canggih untuk menguraikan matematika kompleks untuk menemukan block baru Bitcoin, sebagai hadiahnya si penemu akan dihadiahi sejumlah bitcoin. Hadiah per ditemukannya 1 block awalnya ada 50 BTC, sekarang 25 BTC/block, selanjutnya akan terus berkurang diiringi dengan bertambahkan sirkulasi Bitcoin. Sistem telah memastikan bahwa maksimal bitcoin yang beredar di dunia adalah 21 Juta BTC sehingga tidak akan terjadi inflasi.
Apakah Bitcoin Aman?
Anda mungkin berpikir bahwa sistem bitcoin yang open source memungkinkan seorang komputer jenius dapat membobol sistem bitcoin dan menerbitkan sejumlah bitcoin untuk dirinya sendiri. Kenyataannya sistem ini telah direview oleh berbagai kalangan sebagai tanpa cacat. Setiap data transaksi masa lampau tersimpan di semua peer di seluruh jaringan, dan harus berurutan. Setiap transaksi baru akan diverifikasi oleh sejumlah peer baru dinyatakan valid.
Sistem bitcoin aman, yang tidak aman adalah pengguna dan money exchanger. Sama seperti password internet banking, hacker bisa dengan mudah mencuri sejumlah uang dari Anda jika komputer terjangkit virus.
Bagaimana cara mendapatkan Bitcoin?
Anda dapet mendapatkan bitcoin dengan cara membeli dan mining. Untuk membeli bitcoin dapat dilakukan di exchanger-exchanger seperti bitcoin.co.id (indonesia), mtgox (US & Jepang), dan btcchina.com (China).
Apakah membeli Bitcoin akan menguntungkan?
Pertanyaan ini seperti pertanyaan saham apa yang harus dibeli besok. Tidak ada yang bisa memastikan. Tapi kalau saya lihat dari perkembangan media yang meliput menyebabkan antusiasme akan bitcoin di mana-mana akan menciptakan demand yang sangat tinggi. Saya percaya harga akan terus melambung berkali-kali lipat, saya sendiri mulai menginvestasikan sejumlah uang ke dalam bitcoin. Namun tentunya saya tidak bertanggungjawab terhadap segala kerugian yang seandainya akan dialami pembaca. Nilai kapitalisasi dari bitcoin sekarang adalah sekitar
1.3 Miliar USD atau sekitar 13 Triliun Rupiah 11 Miliar USD atau 130 Triliun Rupiah (updated 14 Desember 2013), padahal ini masih permulaan banyak orang yang belum mengetahui Bitcoin.
Silahkan mempelajari lebih lanjut mengenai Bitcoin:
 
Blogger Templates